INFOTREN.ID - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melontarkan ancaman militer yang sangat serius. Ancaman tersebut secara spesifik menargetkan berbagai infrastruktur vital di wilayah Republik Islam Iran.

Peringatan keras dari Gedung Putih ini berfokus pada isu krusial navigasi maritim global, yaitu jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Trump memberikan tenggat waktu yang sangat singkat bagi Teheran untuk membuka kembali selat tersebut.

Ancaman serangan ini dijadwalkan akan dilancarkan pada hari esok, menyusul batas waktu yang telah ditetapkan oleh Presiden AS. Serangan tersebut diklaim akan menyasar sektor-sektor energi dan transportasi utama Iran.

Menurut informasi yang diterima, target serangan mencakup fasilitas pembangkit listrik serta infrastruktur jembatan yang menjadi urat nadi perekonomian Iran. Langkah ini mengindikasikan eskalasi signifikan dalam hubungan bilateral kedua negara.

Dilansir dari Al Jazeera, Senin (6/4/2026), Presiden Trump menyampaikan ancaman tersebut melalui sebuah pernyataan publik yang diunggah di media sosial miliknya. Unggahan tersebut dilaporkan mengandung bahasa yang sangat keras dan konfrontatif.

"Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik hingga jembatan di Iran jika Selat Hormuz tak kunjung dibuka," demikian isi pemberitaan mengenai pernyataan tersebut.

Lebih lanjut, Trump menegaskan kembali maksudnya untuk melancarkan serangan terhadap aset-aset sipil tersebut. "Trump mengulangi ancaman sebelumnya untuk menghancurkan infrastruktur vital di seluruh Iran," kutipan tersebut disampaikan oleh sumber berita.

Ancaman ini secara eksplisit ditujukan untuk memaksa Iran segera membuka kembali jalur perairan internasional tersebut. "Trump mengancam akan menyerang infrastruktur sipil di Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali sebelum batas waktu yang ia tetapkan, yaitu Senin ini," ujar Al Jazeera.

Situasi ini menunjukkan bahwa Washington tidak akan menoleransi penutupan atau gangguan yang berkelanjutan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz yang sangat penting bagi rantai pasok energi dunia.