INFOTREN.ID - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memuncak setelah Washington melancarkan serangan udara yang sangat kuat di Pulau Kharg, yang merupakan basis militer Iran. Serangan ini terjadi di area yang sangat vital bagi jalur pelayaran energi global.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan secara langsung operasi militer tersebut melalui unggahan di platform media sosial pribadinya, Truth. Pengumuman ini menegaskan keterlibatan langsung Washington dalam eskalasi konflik terbaru.
Trump mengklaim bahwa serangan yang dilancarkan oleh Komando Pusat Amerika Serikat tersebut termasuk yang paling dahsyat yang pernah terjadi di kawasan Timur Tengah. Ia secara spesifik menyebutkan target utama serangan tersebut.
"Komando Pusat Amerika Serikat telah melancarkan salah satu serangan udara terkuat dalam sejarah Timur Tengah, dan menghancurkan habis-habisan setiap sasaran Militer di 'permata mahkota' Iran, Pulau Kharg," kata Trump dalam sebuah postingan di Truth Social, dilansir Al Jazeera, Sabtu (14/3).
Menariknya, Presiden Trump menyatakan bahwa pada tahap awal serangan, pihaknya sengaja mengambil langkah untuk tidak menargetkan infrastruktur minyak yang berada di pulau tersebut. Keputusan ini menunjukkan adanya perhitungan strategis dalam serangan tersebut.
Namun, Trump segera melontarkan ancaman keras jika Iran atau sekutu mereka berani mengganggu jalur pelayaran vital di Selat Hormuz di kemudian hari. Keputusan untuk tidak menyerang minyak bisa dicabut sewaktu-waktu.
"Namun, jika Iran, atau pihak mana pun, melakukan tindakan apa pun yang mengganggu kebebasan dan keamanan pelayaran kapal melalui Selat Hormuz, saya akan segera mempertimbangkan kembali keputusan ini," tambah Trump dalam sebuah postingan di Truth Social.
Pulau Kharg sendiri memiliki peran krusial sebagai pusat utama bagi ekspor minyak mentah Republik Islam Iran ke pasar internasional. Mayoritas minyak Iran dimuat dari fasilitas yang berada di pulau tersebut sebelum didistribusikan.
Serangan terhadap instalasi militer di Kharg diyakini merupakan upaya AS untuk membatasi kemampuan operasional Iran. Tujuannya adalah memangkas potensi Iran dalam melancarkan serangan rudal terhadap kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.