JAKARTA, Infotren.id- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menyoroti rapuhnya rantai pasok global.
Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, menjadi perhatian dunia karena hampir 20 juta barel minyak melewati jalur ini setiap hari, setara dengan hampir 20% konsumsi minyak global.
Ketika konflik meningkat pada 2026, premi asuransi maritim melonjak, memaksa sejumlah kapal tanker menunda pelayaran.
Menurut Fauzan Fadel Muhammad Fenomena ini menjadi pengingat pentingnya manajemen risiko dan kesiapan logistik.
Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan posisi strategis di Selat Malaka, memiliki peluang besar untuk menjadi simpul penting perdagangan global.