Teheran memberikan sinyal perlawanan keras terhadap tekanan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah. Komandan Keamanan Iran, Ali Larijani, secara terbuka menyatakan kesiapan pasukannya untuk menghadapi konfrontasi bersenjata dalam jangka waktu lama. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan Washington dan Tel Aviv di wilayah tersebut.
Larijani menekankan bahwa personel militer Iran telah melalui pelatihan intensif untuk menghadapi skenario pertempuran yang tidak berkesudahan. Pemerintah Iran juga menegaskan komitmen finansial mereka dengan menyatakan tidak peduli terhadap besarnya biaya yang harus dikeluarkan demi mempertahankan kedaulatan. Melalui akun media sosial X pada Senin (2/4), ia menegaskan bahwa Iran akan membela diri tanpa mempedulikan pengorbanan apa pun.
Situasi di kawasan semakin memanas setelah angkatan udara dan angkatan laut Amerika Serikat bersama pasukan Israel melakukan pemboman besar-besaran ke wilayah Iran. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer tersebut bertujuan utama untuk melumpuhkan total seluruh kemampuan pertahanan negara tersebut. Sebagai langkah balasan, Teheran telah meluncurkan serangkaian rudal yang menyasar target di Israel serta berbagai fasilitas militer AS.
Di sisi lain, Donald Trump memberikan klaim kontroversial mengenai dampak serangan gabungan yang telah berlangsung sejak Sabtu (28/2) tersebut. Ia menyebutkan bahwa operasi militer itu berhasil menewaskan sekitar 48 pimpinan tinggi negara, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Trump meyakini bahwa kekuatan militer Teheran tidak akan mampu bertahan lama menghadapi gempuran teknologi perang mutakhir milik Negeri Paman Sam.
Mantan Presiden AS tersebut memprediksi bahwa durasi penaklukan Iran hanya akan memakan waktu sekitar empat hingga lima minggu saja. Dalam wawancaranya dengan Daily Mail yang dikutip dari Anadolu, Trump menyatakan bahwa proses penghancuran kekuatan lawan biasanya tidak akan melebihi satu bulan. Keyakinan ini didasari pada status Amerika Serikat sebagai negara besar dengan dukungan logistik militer yang sangat masif di berbagai belahan dunia.
Trump menambahkan bahwa persiapan untuk perang singkat ini sudah direncanakan secara matang dengan ketersediaan amunisi yang melimpah. Ia menegaskan bahwa AS memiliki cadangan senjata yang disimpan secara strategis di banyak negara untuk mendukung operasi militer cepat. Hal ini sangat kontras dengan pernyataan Larijani yang justru memposisikan Iran sebagai pihak yang siap bertahan dalam gesekan bersenjata yang melelahkan.
Ketegangan antara Teheran dan Washington kini berada pada titik didih yang mengkhawatirkan stabilitas keamanan global di Timur Tengah. Ancaman perang panjang dari Larijani menjadi peringatan serius bagi komunitas internasional akan potensi konflik yang meluas secara regional. Hingga saat ini, dunia terus memantau apakah diplomasi masih memiliki ruang ataukah kekuatan senjata yang akan menentukan masa depan wilayah tersebut.
Sumber: Cnnindonesia