PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kembali memperkuat basis bisnisnya dengan menyiapkan anggaran besar untuk ekspansi masa depan. Emiten tambang milik konglomerat Low Tuck Kwong ini memproyeksikan belanja modal yang signifikan guna menyongsong tahun buku 2026. Langkah strategis ini mencerminkan optimisme perusahaan dalam menghadapi dinamika pasar komoditas global yang fluktuatif.
Perusahaan mengalokasikan belanja modal atau *capital expenditure* (capex) pada kisaran US$200 juta hingga US$300 juta untuk tahun 2026. Jika dikonversi menggunakan kurs Rp16.916 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan Rp3,38 triliun hingga Rp5,07 triliun. Angka ini menunjukkan tren peningkatan dibandingkan realisasi belanja modal pada periode tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, manajemen BYAN mencatatkan pengeluaran belanja modal sebesar US$181,7 juta sepanjang tahun 2025. Alokasi tersebut tercatat jauh lebih rendah jika disandingkan dengan anggaran capex tahun 2024 yang menembus US$399,2 juta. Fluktuasi anggaran ini merupakan bagian dari penyesuaian strategi investasi jangka panjang perseroan di sektor pertambangan. “Belanja modal 2026 sekitar US$200 juta—US$300 juta,” tulis manajemen BYAN dalam pedoman resmi yang dikutip pada Rabu (4/3/2026). Selain memaparkan rencana modal, pihak perseroan juga memberikan gambaran mengenai target kinerja operasional lainnya untuk tahun yang sama. Rentang target yang ditetapkan manajemen kali ini tergolong cukup lebar untuk mengantisipasi berbagai kondisi pasar.
Dalam sisi pendapatan, emiten berkode saham BYAN ini membidik angka di kisaran US$1,8 miliar hingga US$3,8 miliar pada 2026 mendatang. Realisasi pendapatan ini menjadi tantangan tersendiri mengingat pada 2024 perusahaan meraup US$3,42 miliar atau turun tipis 0,55 persen. Perseroan berupaya menjaga stabilitas arus kas di tengah pergerakan harga komoditas yang dinamis.
Target operasional tahun 2026 dipatok pada volume produksi batu bara sebesar 39 juta hingga 76 juta ton. Manajemen juga memproyeksikan volume penjualan berada di rentang 39 juta hingga 78 juta ton dengan biaya tunai produksi sekitar US$36—US$42 per ton. Sementara itu, rasio pengupasan tanah atau *stripping ratio* diperkirakan akan berada pada level 4,8 hingga 5,2 kali.
Fokus pasar utama BYAN masih didominasi oleh ekspor ke China sebesar 32 persen dan pemenuhan kebutuhan domestik sebanyak 26 persen. Negara lain seperti Filipina, India, Malaysia, hingga Vietnam tetap menjadi destinasi penting bagi distribusi emas hitam milik perseroan. Dengan kenaikan volume produksi yang konsisten, BYAN optimistis dapat mempertahankan pangsa pasar di kawasan Asia.
Sumber: Market.bisnis