INFOTREN.ID - Nilai tukar Rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada perdagangan hari Senin, 30 Maret, di mana mata uang Garuda dilaporkan telah menembus level psikologis Rp 17.002 per Dolar Amerika Serikat.

Pelemahan ini terjadi di tengah dinamika pasar global yang masih dihantui oleh ketidakpastian geopolitik, khususnya dampak lanjutan dari konflik yang sedang berlangsung di berbagai belahan dunia.

Namun, pelemahan Rupiah kali ini tidak semata-mata dipicu oleh faktor eksternal, melainkan juga diperparah oleh isu-isu internal yang bersifat fundamental dan berkepanjangan.

Faktor domestik yang paling disorot adalah adanya tekanan fiskal yang saat ini dinilai memiliki karakteristik struktural dan sulit diatasi dalam jangka pendek.

Tekanan fiskal struktural ini bersumber dari tiga komponen utama yang terus membebani anggaran negara secara berkelanjutan.

Tiga sumber utama tekanan fiskal tersebut meliputi beban subsidi energi yang kian membengkak, peningkatan biaya pembayaran bunga utang pemerintah, serta alokasi belanja prioritas yang terus meningkat.

"Tekanan fiskal saat ini dinilai bersifat struktural, yang berasal dari subsidi energi, kenaikan biaya bunga utang dan belanja prioritas," demikian pandangan yang disampaikan mengenai kondisi fiskal terkini.

Hal ini mengindikasikan bahwa perbaikan neraca perdagangan saja mungkin belum cukup untuk menstabilkan Rupiah tanpa adanya reformasi yang menyentuh akar masalah pengeluaran negara tersebut.

Kondisi ini menempatkan Bank Indonesia pada posisi yang lebih sulit dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tantangan ganda antara volatilitas global dan kerentanan fiskal domestik.