JAKARTA, Infotren.id - Krisis yang sedang berkembang antara Iran dan negara-negara besar kini bukan hanya soal ketegangan militer, tetapi lebih dari itu, ini adalah peringatan besar bagi Indonesia terkait ketahanan energi nasional.
Konflik ini berpotensi mempengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia, yang bergantung pada jalur perdagangan maritim dan impor energi.
Sebagai negara kepulauan dengan 90% perdagangan internasional melalui laut, Indonesia sangat rentan terhadap dampak dari ketegangan di kawasan Teluk Persia, khususnya di Selat Hormuz.
Selat ini mengalirkan sekitar 20-25% pasokan minyak global dan 20% perdagangan LNG dunia.
Apa yang terjadi di Hormuz, bahkan jika Indonesia tidak terlibat langsung, akan memiliki dampak besar terhadap perekonomian negara ini.
Capt. Taufan Sofiandi, SE, M.Mar, seorang praktisi maritim dan Fleet Operations, memberikan pandangan mendalam tentang dampak potensi eskalasi ketegangan ini terhadap Indonesia.
Dalam wawancara eksklusif, Capt. Taufan menekankan bahwa Indonesia harus melihat ancaman ini dengan cara yang lebih strategis.
"Ini bukan hanya masalah geopolitik, ini masalah ketahanan energi Indonesia," kata Capt. Taufan pada Senin(2/3/2026).
"Ketika harga minyak dunia naik, subsidi energi kita akan tertekan. Nilai tukar rupiah juga akan terdepresiasi. Itu adalah dampak langsung dari ketegangan global. Indonesia perlu lebih waspada."