JAKARTA, Infotren.id- Pada awal pekan ini, Senin (27/4/2026), Rupiah kembali membuka perdagangan dengan kondisi yang tidak menggembirakan.
Mata uang Indonesia tercatat melemah 0,03% di level Rp17.210 per USD, melanjutkan tren depresiasi yang sudah berlangsung sepanjang pekan sebelumnya.
Pelemahan ini menambah catatan buruk bagi Rupiah, yang saat ini tercatat berada pada posisi terlemahnya sepanjang masa.
Pelemahan Rupiah semakin dalam pada pukul 09:25 WIB, dengan nilai tukar mencapai Rp17.223 per USD, atau berkurang 0,1% dibandingkan dengan posisi sebelumnya.
Gejolak di pasar mata uang global semakin terasa seiring menguatnya Indeks Dolar AS sebesar 0,81%, yang kini berada di level 99,32, didorong oleh lonjakan harga minyak mentah.
Harga minyak jenis Brent, yang meningkat sebesar 2,3%, kini berada di level US$107,73 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada pada kisaran US$96 per barel.
Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang menyebabkan negosiasi kedua negara terhenti tanpa hasil yang signifikan.
Namun, meskipun harga minyak mengalami lonjakan, sebagian besar mata uang di kawasan Asia justru mencatatkan penguatan.
Dolar Taiwan memimpin dengan kenaikan sebesar 0,3%, diikuti oleh ringgit Malaysia 0,29%, dan won Korea Selatan 0,26%. Sebaliknya, Rupiah justru terjerembab di zona merah bersama dolar Hongkong, yang juga tercatat melemah.