JAKARTA, Infotren.id— Pergerakan pasar saham dan nilai tukar Rupiah baru-baru ini memberi sinyal penting bagi ekonomi nasional. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat berada di level 7.700-an turun ke bawah 7.000, sementara Rupiah melemah ke kisaran Rp17.300–17.400 per dolar AS. Meski terlihat mengkhawatirkan, analis pasar saham Kusfiardi menekankan bahwa ini merupakan alarm positif bagi percepatan reformasi struktural ekonomi Indonesia.

“Pasar sedang memberi pesan jelas: fondasi ekonomi kita harus lebih kokoh. Pergerakan IHSG sebelumnya banyak dipengaruhi arus modal jangka pendek, bukan kekuatan ekonomi nyata,” ujarnya dalam wawancara eksklusif, Senin (11/5).

Menurut Kusfiardi, volatilitas ini menyoroti ketergantungan ekonomi terhadap impor bahan baku, energi, dan fluktuasi dolar AS. Namun, sisi positifnya, investor dan pemerintah kini punya kesempatan memperkuat strategi ekonomi domestik. 

“Ini momentum bagi kita untuk memperdalam industri lokal, meningkatkan produktivitas, dan membangun pasar keuangan yang lebih tangguh,” katanya.